NECKY

Explore Your World Through Knowledge

Pernyataan Sikap KRL Mania terkait Perubahan Sistem Perjalanan KRL Jabodetabek

Posted by n3ki on March 30, 2011


Kepada Yth.

· Direktur Operasi PT. Kereta Api (Persero)

· Direktur Operasi PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek

· Corporate Secretary PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek

· Kepala Humas Daop I Jakarta

Salinan:

· Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementrian Perhubungan RI

· Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

· Institut Studi Transportasi (INSTRAN)

· Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

· Media Massa Cetak

· Media Massa Online

Menanggapi adanya informasi terkait dengan kebijakan PT. Kereta Api (PT KA) dan PT. Kereta Api Commuter Jabodetabek (PT KCJ) untuk melakukan perubahan Sistem perjalanan KRL Jabodetabek dan perubahan tarif KRL per 1 April 2011, KRL Mania sebagai forum komunikasi pengguna KRL Jabodetabek, menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Sangat mempertanyakan efektifitas kebijakan ‘penghapusan KRL ekspres’ atau ‘semua KRL Ekspres berhenti di tiap stasiun’ terhadap peran serta operator sebagai pelaksana transportasi publik dalam mengurangi kemacetan jalan raya. Sebagian besar konsumen yang menggunakan KRL Ekspres (Depok, Bogor , Bekasi, Serpong) dengan pertimbangan kenyamanan dan kecepatan waktu tempuh. Kalau dua hal tersebut sudah tidak ditemukan lagi di KRL Ekspres, amat dikuatirkan sebagian besar dari mereka beralih ke moda angkutan lain (bus atau kendaraan pribadi). Dan itu artinya secara langsung atau tidak, PT KA/KCJ telah memberikan kontribusi terhadap kemacetan jalan raya. Pengguna KRL Ekspres saat ini semakin meningkat, hal ini bisa dilihat dari jumlah penumpang KRL Ekspres di setiap jadwal perjalanan KRL yang selalu penuh.
  2. Amat dipahami bahwa jika operator mengacu pada angkutan massal komuter berbasis rel di negara maju atau tetangga ( Singapura , Malaysia , Thailand atau Korea ) tidak ada kelas kereta yang artinya tidak ada operasi susul menyusul. Tetapi alangkah lebih bijak jika operator tidak membandingkannya secara parsial, tetapi dilihat secara utuh. Misalnya: apakah headway (jadwal keberangkatan) KRL kita sudah sedemikian padat seperti mereka, apakah jumlah armada KRL kita sudah bisa dibilang cukup untuk memenuhi perjalanann (minimal) saat jam sibuk, dan lebih penting lagi apakah prasarana kita (rel layang atau underpass) –secara jumlah– sudah cukup agar bisa memenuhi headway tersebut. Apakah masih memungkinkan kita bicara headway perlima menit tetapi persimpangan jalan raya masih begitu banyak. Harusnya hal-hal tersebut di atas dipenuhi terlebih dahulu dan menjadi prasyarat mutlak sebelum dilakukan kebijakan “single operation” agar kereta benar-benar menjadi angkutan yang layak dan manusiawi.
  3. Mempertanyakan dasar perubahan tarif yang secara jargon dikenal sebagai “single operation” tetapi pada kenyataannya tetap ada 3 kelas kereta, yaitu KRL Ekonomi, KRL Ekonomi AC dan ‘KRL Ekspres yang berhenti di tiap stasiun’. Untuk Kelas KRL yang ketiga (KRL Ekspres yang berhenti di tiap stasiun) inipun, belum jelas terlihat maksud dan tujuan operator. Apakah tetap sebagai KRL Ekpres atau KRL Ekonomi AC, KRL AC Komersial atau KRL Commuter Line. Terlepas dari apapun penamaan jenis KRL oleh operator, secara kasat mata kami melihat perubahan itu sebagai penurunan kualitas pelayanan dari kelas Ekspres menjadi kelas Ekonomi AC. Jika kebijakan perubahan rute tersebut sudah mempertimbangkan 2 poin di atas (angka 1 dan 2), maka konsekuensi logis yang harus diambil operator adalah menyamakan tarif KRL Ekspres (atau AC Komersial) dengan tarif Ekonomi AC. Jika perubahan rute tersebut di atas (berdasarkan asumsi kami) dengan pertimbangan agar angkutan massal bisa dinikmati secara luas oleh semua lapisan masyarakat sepanjang jalur rel, maka amat tidak adil jika operator menerapkan tarif berbeda sementara pelayanannya tetap sama.
  4. Menuntut diadakannya sosialisasi yang mendetail mengenai teknis pelaksanaan “single operation” yang rencananya akan diterapkan per tanggal 1 April 2011. Adapun sosialisasi yang wajib diberikan oleh operator KRL sekurang-kurangnya meliputi: a.. Pola perjalanan KRL yang baru (single operation). b.. Tarif tiket KRL untuk setiap kelas dan perjalanan c.. Tata cara perpindahan perjalanan KRL, serta d.. Daftar tanya-jawab yang akan muncul selama penerapan pola perjalanan KRL yang baru (Frequently Asked Question / FAQ) e.. Jika sosialisasi ini tidak kunjung diberikan secara lengkap, operator harus memundurkan jadwal penerapan “single operation” KRL untuk semua perjalanan.
  5. Menyayangkan sikap operator KRL yang terkesan tertutup terhadap para pengguna jasa KRL dimana hal ini terlihat dari minimnya sosialisasi massal serta tidak adanya respon terhadap semua pertanyaan dan hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan jelas terhadap layanan jasa KRL Jabodetabek.

Hormat Kami,

Nurcahyo, Komunitas KRL Mania (Forum Komunikasi Pengguna KRL Jabodetabek)

sumber: http://www.krlmania.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: